Di Balik Kejatuhan Rupiah Terhadap Dolar AS Pada April 2024

#Multiplier: Market Inertia dan Animal Spirit.

Global capital yang kita bicarakan di sini bukanlah modal yang masuk sebagai direct investment yang melahirkan pabrik-pabrik, memperluas skala usaha perusahaan-perusahan di Indonesia. Ktia sedang bicarakan hot money. Ini adalah istilah untuk kapital yang beredar di beragam pasar keuangan: bursa saham, bursa komoditas berjangka, pasar valas, pasar surat utang, hingga pasar crypto currency.

Hot money senantiasa bergerak. Ia hanya bertahan sebentar di suatu pasar, beberapa bulan hingga beberapa tahun, lalu setelah mendapatkan keuntungan singkat dan besar, segera bergerak mencari peluang baru di pasar lain dan di negara lain.

Tiga faktor yang telah kita bahas sebelumnya menyediakan peluang keuntungan singkat dan besar bagi hot money jika segera berpindah ke pasar-pasar keuangan di Amerika Serikat. Mereka akan buntung atau setidaknya kehilangan peluang untung besar, paling kurang untuk setahun ini, jika masih bertahan di pasar keuangan Indonesia.

Selain tiga faktor di atas, ada faktor lain yang menyebabkan nilai capital flight menggelembung: kepanikan.

Pada 20 April kemarin, Bank Indonesia merilis data bahwa pada 16-18 April 2024 terjadi capital flight dengan net sell (selisih modal keluar terhadap modal masuk) sebesar Rp21,46 triliun dari pasar keuangan Indonesia. Dirinci berdaskan pasar, nett sell di pasar saham sebesar Rp3,67 triliun; Rp9,79 triliun di pasar surat utang negara; dan Rp8 triliun di Sekuritas Rupiah BI.14

Nilai net sell Rp21,46 triliun adalah jumlah yang besar. Jika dibandingkan secara year to date (terhadap data 1 Januari 2024) aliran modal asing sebenarnya masih net buy di pasar saham (Rp15,12 triliun) dan di SRBI (Rp12,90 triliun). Tetapi nilai net sell dalam 3 hari (16-18 April) di pasar saham yang mencapai 20-an persen net buy selama 4 bulan tentu mencemaskan. Demikian pula di SRBI, net sel 3 hari setara tiga perempat net buy 4 bulan. Kondisi lebih buruk terjadi di pasar SBN yang telah mengalami jual neto Rp38,66 triliun ytd. Padahal imbal hasil surat hutang negara kita untuk tenor 10 tahun sudah naik ke 6,93 persen.

Hemat saya, faktor inertia turut bermain meskipun tidak signifikan untuk konteks mudiknya modal global. Faktor inertia berperan lebih besar terhadap investor dan trader ritel di Bursa Efek Indonesia yang menyebabkan IHSG jatuh lebih dalam dari yang seharusnya. Tetapi meski kecil perannya terhadap capital flight, faktor inertia akan terus berperan, setidaknya selama sebulan ke depan. Perannya akan menjadi besar jika terjadi lagi kejatuhan tajam rupiah terhadap dolar seperti 16 April kemarin.

Tentang inertia atau kelembaman pasar keuangan, saya ingin menjelaskannya begini:

Aliran keluar-masuk modal, gerak naik-turun harga di Pasar keuangan itu tak beda dengan kondisi gerak benda dalam mekanisme newtonian: inert, lembam. Ketika sebuah peristiwa menjadi impuls yang menggerakan aliran modal keluar –atau sebaliknya masuk–dalam jumlah besar, aliran keluar atau masuk akan terus terjadi sekalipun dampak dari impuls itu telah berkurang dan menjadi nol.

Sedikit selingan, tentang bagaimana mekanika newtonian mewujud dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan lain-lain aspek nonkebendaan, sila baca “New Normal Amien Rais vs Jokowi” atau “Tiada Yang Eksak, Diana.”

Artinya begini. Modal yang terbang ke luar pada 16-18 April, dan hari-hari sesudahnya, mungkin hanya 80an persen saja yang didorong oleh pertimbangan matang terhadap kondisi near future (1-2 tahun) ekonomi Indonesia dan Amerika Serikat berdasarkan informasi yang memadai. Sementara 20% sisanya hanya ikut-ikutan karena panik. Kepanikan atau ketakutan (fear) ini yang kemudian mengambil alih peran sebagai bahan bakar gerak modal kembali ke AS, sekalipun telah muncul optimisme terhadap batal pecahnya perang terbuka Iran-Israel, dan bahwa kondisi membaiknya perekonomian AS tidak serta-merta berarti tidak ada keuntungan yang bisa dioptimalkan dari perekonomian Indonesia.

Fear (ketakutan, kecemasan, kepanikan) dan greet (kerakusan, optimisme berlebihan, fomo) adalah dua kondisi psikologis pelaku pasar, tertama investor dan trader ritel, yang sekalipun tidak rasional tetapi telah menjadi bahan bakar gerak naik-turun harga di pasar keuangan, bahkan menjadi tenaga penggerak dan pengerem dalam ekonomi riil. Fear dan greet inilah yang Keynes istilahkan sebagai animal spirit dan menjadi penyebab kesulitan dalam mengatasi sejumlah krisis ekonomi.

“Most, probably, of our decisions …, can only be taken as a result of animal spirits – of a spontaneous urge to action rather than inaction, and not as the outcome of a weighted average of quantitative benefits multiplied by quantitative probabilities.”

John Maynard Keynes15

Next:

#Resistor: Batu bara, sawit, mineral, dan komoditas perkebunan.

Pages: 1 2 3 4 5