Di Balik Kejatuhan Rupiah Terhadap Dolar AS Pada April 2024

#Ketiga, provokasi Israel dan balasan Iran, keresahan meletusnya perang besar.

Minggu malam hingga Senin subuh, 14-15 April 2024, Iran meluncurkan 170 drone, 30 rudal jelajah, dan 110 rudal balistik ke wilayah Israel. Peluncuran dilakukan dari Iran dan negara-negara yang jadi base milisi-milisi proxy Iran seperti Irak, Suriah, dan Yaman.

Beruntung bagi Israel. Selain pertahanan Iron Dome, teknologi pertahanan terhadap serangan udara mereka, mumpuni, sejumlah negara sekutu seperti Amerika Serikat dan Inggris, bahkan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab UEA ikut serta melindungi, meluncurkan tembakan-tembakan pencegat serangan Iran. Negara Teluk lain, seperti Arab Saudi, Mesir, dan Uni Emirat Arab membantu dengan berbagi informasi intelijen yang mereka miliki terkait rencana serangan Iran.

Israel tidak mengalami kerusakan berarti. Memang, Iran menyebut serangan mereka semata-mata peringatan dan didesain untuk gagal. Iran cuma hendak menunjukkan dampak lebih buruk yang bisa Israel alami jika mengulangi lagi penyerangan konsulat Iran di Damaskus, Suriah yang menewaskan tiga pimpinan tinggi al-Quds, salah satu pasukan elit angkatan bersenjata Iran.12

Sekalipun Iran menyatakan tidak benar-benar bermaksud memancing pecahnya perang; demikian pula Israel tampaknya akan ditekan sekutu-sekutunya untuk tidak membalas serangan Iran, masyarakat dan pelaku bisnis dunia terlanjur cemas.

Pecahnya perang terbuka antara Iran dan Israel, jika sampai terjadi, akan menjalar menjadi perang besar yang melibatkan banyak pihak. Kedua negara memiliki kekuatan bersenjata yang besar dan sekutu masing-masing dengan sumber daya militer terbesar di dunia. Israel memiliki dukungan Amerika Serikat dan Inggris, dan itu berarti akan menyeret pula keberpihakan negara-negara NATO. Sebaliknya Iran berhubungan baik dengan Rusia, China, dan Korea Utara. Iran juga memiliki pengaruh atas banyak milisi yang tersebar di negara-negara Timur Tengah.

Perang tentu saja merugikan perekonomian meskipun ketika mereda akan menciptakan banyak dan beragam permintaan baru yang menguntungkan sejumlah industri dan perusahaan. Ketika perang pecah, rantai pasok terganggu. Pabrik-pabrik kesulitan bahan baku. Biaya logistik naik. Lihat saja bagaimana perang Rusia – Ukraina berdampak terhadap industri dan perekonomian dunia

Rusia dan Ukraina secara bersama-sama adalah salah satu produsen utama gandum, minyak bunga matahari, pupuk, serta gas dan minyak bumi bagi pasar global. Sebelum perang, Ukraina dan Rusia merupakan produsen dari 36% gandum di pasar global. Kedua negara juga merupakan pemasok lebih dari separuh minyak bunga matahari dunia.13 Sunflower oil adalah saingan utama minyak sawit.

Perang menyebabkan pasokan komoditas yang dihasilkan kedua negara itu terganggu, baik oleh berhentinya produksi, atau karena sanksi perdagangan yang diberlakukan masing-masing pihak. Terganggunya pasokan berarti kelangkaan di pasar, yang kemudian mendorong harga naik. Sialnya, gandum, minyak bunga matahari, gas, dan minyak bumi adalah bahan baku dan bahan baku pembantu yang sangat dibutuhkan bagi banyak industri di dunia.

Grafik Kenaikan Harga Energi sebagai dampak perang Rusia-Ukraina. | Sumber: Economics Observatory.

Kekurangan pasokan menyebakan banyak pabrik harus mengurangi produksi atau menderita kenaikan biaya produksi oleh kenaikan harga bahan baku — termasuk biaya logistik. Dampaknya tingkat keuntungan terpangkas, bahkan merugi. Seberapa banyak pemodal besar yang hendak bertahan menggenggam sahan perusahaan yang merugi?

Iran merupakan salah satu dari 10 negara penghasil minyak bumi terbesar. Perang Israel-Iran, jika terjadi, akan berdampak pada turunnya produksi minyak bumi. Apalagi perang ini akan menyeret pula negara-negara penghasil minyak bumi lainnya di Timur Tengah, seperti Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, dan Kuwait. Secara bersama-sama, lima negara Timur Tengah ini menghasilkan 26% total produksi minyak dunia.

10 Besar Negara Produsen Minyak Bumi Dunia 2023 | Sumber: U.S. Energy Information Administration (EIA)

Kenaikan harga minyak dunia bukan saja berdampak kenaikan biaya produksi yang menggerus keuntungan perusahan-perusahaan (dampak langsung). Untuk mencegah tingkat keuntungan terpangkas terlalu besar, perusahan akan berbagi beban dengan konsumen: menaikan harga jual produknya.

Pada sisi konsumen, kenaikan harga-harga barang (imported inflation) memangkas daya beli. Rumah tangga harus membuat keputusan membatalkan niat atau menunda membeli barang-barang non kebutuhan pokok dan tidak mendesak. Adaptasi yang dilakukan konsumen akan menambah beban perusahaan, mengurangi pendapatan perusahaan-perusahaan pada industri non-kebutuhan pokok.

Dampak berantai dari kenaikan harga minya dunia akan paling banyak dirasakan negara-negara berkembang yang banyak bergantung kepada barang impor, terutama impor barang modal, bahan baku, dan bahan baku pembantu. Indonsia termasuk di dalam kelompok negara ini.

Para pemodal, terutama investor global akan melihat Indonesia bukan lagi tempat berinvestasi yang menguntungkan. Mereka segera melakukan aktivitas lindung nilai ke instrumen-instrumen investasi yang lebih rendah risiko. Sebagaimana diulas sebelumnya, instrumen-instrumen tersebut adalah pasar saham dan pasar uang di Amerika Serikat, terutama T-bond. Ketika pemodal global memindahkan investasi mereka, permintaan akan dolar melonjak, penawaran rupiah naik. Hasilnya nilai rupiah terdepresiasi.

Perang terbuka Iran-Israel mungkin bisa dicegah. Tetapi kepanikan pasar sulit mereda begitu saja. Kecemasan dan sikap berjaga-jaga akan berumur panjang. Apalagi perang pernyataan dan manuver antar Israel dan Iran masih saja ramai. Selama Timur Tengah masih panas, selama itu pula pasar modal dan pasar uang negara-negara berkembang atau negara maju tanggung seperti Indonesia belum cukup menarik untuk bisa memanggil modal internasional kembali masuk.

Ketiga faktor ini — perbaikan ekonomi AS, tight money policy The Fed yang higher for longer rates, serta konflik Iran-Israel– diperburuk oleh faktor keempat: market inertia dan animal spirit. Faktor keempat boleh jadi merupakan multiplier kepanikan modal global yang membuat arus mudik modal berlipat-lipat besarnya.

Next:

#Multiplier: Market Inertia dan Animal Spirit.

Pages: 1 2 3 4 5