Ulah Trump (Lagi-Lagi) dan Reaksi Pasar

Pandangan bahwa market (pasar modal) telah menjadi lebih imun terhadap sepak terjang Donald Trump tampaknya keliru. Setelah serangkaian tarik-ulur kebijakan tarif Trump, pasar ternyata masih juga panikan.

Sejak kejatuhan 8 April (IHSG terjun bebas ke 5.882), market telah berangsur-angsur pulih melalui rally panjang lebih dari sebulan hingga menyentuh angka 7.200an pada 4 hari perdagangan terakhir bulan Mei. Salah satu penyebab pemulihan pasar adalah sentimen positif global oleh pembicaraan USA-China dan USA-UE yang menjanjikan peredaan perang dagang.

Ketika beberapa hari terakhir beredar kabar Trump memulai ketegangan baru dengan Tiongkok — ia menuduh Tiongkok mengkhianati kesepakatan kerena belum juga membuka kembali ekspor mineral tanah jarang ke Amerika Serikat; dan sebaliknya Tiongkok menyatakan kesepakatannya dengan AS tidak mencakup hambatan non-tarif — sempat muncul intuisi saya untuk merealisasikan keuntungan pada BBRI yang pada penutupan pasar di bulan Mei telah mencapai 15%. Harga BBRI pada 28 Mei BBRI ditutup Rp4.450, harga rata-rata saya Rp3.846,54. Sepanjang Mei saya telah pelan-pelan mengurangi porsi BBRI hingga separuh dan berencana membiarkan yang separuh lagi hingga BBRI menyentuh level harga Rp5.000an.

Akan tetapi IHSG yang berangsur-angsur pulih, ditambah pula sebagian analis memberikan targa harga BBRI di atas Rp6000,-, membuat saya mengabaikan suara intuitif yang sayup-sayup tersebut. Saya memang telah menduga BBRI akan turun pada hari pertama bursa di 2 Juni. Tetapi tidak pernah menyangka akan jatuh 5,62% dan menyebabkan saya kehilangan 50% dari potential gain.

Adalah investor asing, bukan retail ritel domestik yang menyebabkan BBRI jatuh lebih dari 5% pada 2 Juni kemarin. Investor dan trader ritel domestik sejatinya terus membuang BBRI selama sepekan ini. Wajarlah jika ritel profit taking setelah berbulan-bulan BBRI merayap. Di tengah aksi buang barang ritel, investor asing terus menampung BBRI. Pada 28 Mei, total net buy asing di BBRI mencapai Rp630,85 miliar, melanjutkan net buy selama sepekan. Akan tetapi pada 2 Juni, sentimen asing terhadap BBRI berbalik menjadi net sell sebesar Rp326 miliar.

Untunglah, saya masih memiliki 9% potential gain pada BBRI. Selain itu sepanjang Mei saya telah merealisasikan gain sebesar 5% dari total aset. Lagi pula saya tetap yakin–berdasarkan sejumlah variabel–pada 2025 ini BBRI akan menyentuh Rp5.000,-. Kita tunggu saja.