MENGENALI KEADAAN
Dua prinsip penting pengorganisiran yang dipegang teguh kalangan aktivis mahasiswa kerakyatan pada era perjuangan melawan Orde Baru (1980an – 200an awal) –dinyatakan dengan slogan:
“Tidak ada Hak Bicara tanpa Investigasi!” dan “Analisis Konkret atas Situasi Konkret.”
yang bermakna:
- Pengorganisiran perlawanan/perjuangan rakyat HARUS DIAWALI dengan penyelidikan dan analisis terhadap kondisi kehidupan masyarakat untuk memahami persoalan rakyat, baik problem pokok pun sekunder, akar persoalannya, analisis kelas, sejarah berlawan, bagaimana penghisapan dan penindasan terjadi dan hal-hal lain;
- bahwa riset/analisis tidak bisa semata-mata dilakukan dari balik meja/pustaka yang berisiko terperangkap jebakan rata-rata (menjeneralisir keadaan). Riset harus dilakukan dengan mengalami langsung situasi kehidupan konkret masyarakat yang hendak diorganisir.
Investigasi Sosial dan Analisis Kelas (ISAK)
- Populer di kalangan gerakan mahasiswa berideologi kiri.
- Merupakan metode riset lapangan yang digunakan untuk menggali realitas sosial, kondisi ekonomi, dan ketimpangan di masyarakat. Pendekatan ini bertujuan untuk memahami relasi kuasa dan akar masalah struktural sebelum merancang program advokasi, pengorganisasian massa, atau perubahan sosial.
- Investigasi Sosial: Proses pengumpulan data primer dan sekunder di lapangan untuk mengetahui fakta riil, seperti kondisi demografi, mata pencaharian, hingga masalah spesifik yang dihadapi suatu kelompok masyarakat.
- Analisis Kelas: Membedah data yang diperoleh untuk melihat stratifikasi sosial dan posisi ekonomi masyarakat. Langkah ini mengidentifikasi siapa yang menguasai alat produksi, siapa yang dieksploitasi, serta siapa yang diuntungkan atau dirugikan oleh sistem yang sedang berjalan.
Spiral Pastoral/Circle of Praxis
Populer di kalangan gerakan yang berada dalam pengaruh Jesuit.
Kerangka metodologi sosiologis-teologis yang digunakan secara luas dalam pengorganisasian masyarakat, perjuangan keadilan sosial, dan pemberdayaan komunitas basis. Awalnya diperkenalkan oleh Joe Holland dan Peter Henriot (Social Analysis: Linking Faith and Justice, 1980) yang dikembangkan dari akar metode klasik Joseph Cardijn: See, Judge, Act
4 Tahap:
- Insertion / Contact / Experience – Apa yang sebenarnya sedang terjadi di tingkat tapak?
- Social Analysis – Mengapa masalah ketimpangan tersebut bisa terjadi?
- Theological & Ethical Reflection – Apa kata nilai luhur, iman, atau prinsip keadilan kita mengenai realitas ini?
- Pastoral Planning & Action – Bagaimana kita harus merespons secara kolektif untuk mengubah keadaan?
Kewajiban Riset dalam Pengorganisasian Tani Masa Revolusi Nasional
- Pada massa pergerakan revolusi nasional, aktivis pergerakan telah menjadikan riset sebagai landasan pengorganisasian dan perjuangan.
- Pada 1964 D.N. Aidit menulis tentang pentingnya riset dalam pengorganisasian perjuangan: “Sejak tahun 1951, kaum Komunis Indonesia sudah berusaha menggunakan metode riset dalam pekerjaan Partai. Misalnya, kita pernah berusaha untuk mengetahui persoalan agraria, kaum tani dan gerakan tani secara “tanya-jawab”, secara angket (questionnaires), dengan jalan mengedarkan formulir-formulir yang memuat daftar pertanyaan dengan kolom-kolom yang harus diisi oleh kader-kader Partai tertentu. … Metode demikian ini adalah keliru, karena tidak mengadakan kontak langsung dengan kenyataan-kenyataan konkret, maka itu tidak mungkin memberikan gambaran yang sebenarnya mengenai soal yang ingin kita ketahui. Apalagi jika sumbernya semata-mata dari jawatan, kecamatan, atau kelurahan, tentu saja tidak mungkin memberikan gambaran yang benar mengenai hubungan kelas-kelas dan cara-cara penghisapan di desa. “
- Artikel tersebut mengulas pula prinsip “3 sama – 4 jangan – 4 harus” dalam melakukan riset kondisi hidup kaum tani.
