Food System Outcomes
FSDS Toolbox mengarahkan analis untuk mengidentifikasi “pockets of resistance to change” dan membedakan antara transformasi sistem (menghapus atau menambah feedback loops) dan perubahan inkremental (memperlambat atau mempercepat loops yang sudah ada).
Hasil FNS di dalam RAD
- Stunting: Prevalensi 35,3% (SSGI 2023), tertinggi kedua secara nasional — seluruh kabupaten melampaui
ambang 20% untuk kategori “high concern”. - Wasting dan underweight: Juga berada pada kategori “tinggi hingga sangat tinggi” di hampir semua
kabupaten, menunjukkan malnutrisi akut yang menyertai stunting kronis. - Anemia pada ibu hamil: Prevalensi sekitar 40% di tingkat provinsi; Sabu Raijua dan Belu mendekati 50%,
berkontribusi langsung pada hambatan pertumbuhan janin dan stunting antargenerasi. - Keragaman konsumsi pangan: Skor PPH 83,3 (2024) — di bawah skor ideal 100 — mencerminkan
rendahnya konsumsi protein hewani, kacang-kacangan, dan sayuran dibanding dominasi serealia (beras dan
jagung). - Kecukupan energi dan protein: Konsumsi energi per kapita masih di bawah acuan 2.100 kkal/kapita/hari;
konsumsi protein sedikit di bawah ambang 57 g/kapita/hari.
Hasil Sosial-Ekonomi di dalam RAD
- Kemiskinan berada pada kisaran 19–20% populasi provinsi, termasuk yang tertinggi di Indonesia timur,
dengan sekitar 1 juta penduduk tergolong miskin. - Penghidupan sangat rentan: Mayoritas rumah tangga bergantung pada pertanian tadah hujan dan perikanan
untuk 80–90% pendapatan, sehingga sangat sensitif terhadap guncangan iklim dan volatilitas harga
komoditas. - Indeks Kerentanan Pangan (IKP/FSV): Banyak kecamatan dan desa diklasifikasikan sebagai “sangat
rentan” atau “rentan terhadap kerawanan pangan,” dipengaruhi oleh keterbatasan akses fisik, akses ekonomi,
dan rendahnya kapasitas produksi lokal.
Hasil Lingkungan di dalam RAD
- Musim kemarau tujuh bulan (April–Oktober) membentuk keseluruhan kalender produksi.
- Pemantauan BMKG menunjukkan sebagian besar wilayah Timor dan Sumba kini mengalami lebih dari 100
hari kering berturut-turut setiap tahun (kategori ekstrem), dengan kenaikan suhu permukaan 0,1–0,3°C per
tahun. - Penurunan luas tanam (penyusutan lahan budidaya untuk jagung, singkong, dan kacang-kacangan)
- mengindikasikan tekanan penggunaan lahan dan kemungkinan degradasi tanah.
- Produktivitas perikanan terancam oleh cuaca ekstrem dan berkurangnya akses melaut pada periode
gelombang tinggi.
RAD belum membahas:
- Luaran Sosial Ekonomi: beban rangkap tiga (triple burdent) perempuan, ketergantungan kepada pekerja migran (labor migration depenency), dan degradasi agroforestry.
- Kerawanan Pangan Musiman: Kondisi gagal pangan yang terjadi berulang pada periode tertentu (seperti musim paceklik).
- Transisi Pola Makan (Dietary Transition): Pergeseran konsumsi ke arah pangan olahan yang kurang bergizi.
- Pernikahan Dini: Dampak sosial dari kerentanan ekonomi dan kegagalan sistem pangan dalam menjamin kesejahteraan keluarga.
- Ketidakcukupan Asupan Energi dan Protein: Kegagalan pemenuhan standar gizi minimum yang berisiko pada kesehatan masyarakat jangka panjang.
Lihat temuan tim peneliti dalam Kertas Kebijakan: Jalur Masyarakat Menuju Ketahanan Pangan, Agroforestri, dan Resiliensi Iklim di Indonesia Timur